Sinopsis
Buku Laskar Pelangi
Beberapa waktu ini Tetralogi Laskar Pelangi
karangan Andrea Hirata kian mewangi kembali. Ada apa gerangan? Yup, betul. Buku
pertama dari tetralogi tersebut, Laskar Pelangi kini diangkat ke layar lebar.
Bagi yang sudah membaca bukunya mungkin menonton film laskar pelangibukan sesuatu yang rumit untuk
dipahami. Tapi, bagi yang belum pernah baca bukunya berikut aye tulis sinopsis
novel laskar pelangi yang aye dapet dari salah satu milis yang aye ikuti. Moga
bermanfaat bagi pengembangan dunia pendidikan kita.

Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh
penulisnya sendiri, buku “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil
anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin Belitung. Anak
orang-orang ‘kecil’ ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh
pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan.
Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi
begitu modern pada masanya, SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu
papa dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah).
Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena
kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang
mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus menerus membayangi sekolah
kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang
guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu
guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha
mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang
nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan
murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa
bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran
tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah
bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya,
jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa
mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan
sekian kilo beras-sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan
cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru
menerima jahitan.
Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di
sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya
terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu
guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil
mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.
Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu
membesarkan hati kesebelas anak-anak marjinal tadi agar percaya diri, berani
berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang
sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar,
tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar
apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan
seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid
lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat
menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas
murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah,
dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan
sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota
laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas
tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu
prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah
ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti
sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti
karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu
ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena
seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah
keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan
mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah
itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri
tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak
Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya
kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar
pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and
development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di
negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan
research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with
distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari
pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak
Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau
mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.
Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan
buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini
memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi
kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu
memiliki definisi dan dimensi yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan
sekolah miskin Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali
tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu
kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.
BY ; RaHayuOe ApRiLYAnii
BY ; RaHayuOe ApRiLYAnii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar